Penerima

flower-2145483_960_720

Cinta seharusnya datang membawa bahagia. Di tangannya yang terbuka, siap untuk menerima dan mendekap. Akankah waktu membuat sebuah perasaan bertahan dan bertambah atau malah menghilang dan memudar.

Ternyata hidup bersama dengan yang baik tak menentukan kebahagiaan. Karena ada bagian yang tak bisa dipahami dan dimengerti kebaikan, ternyata kebaikan tidak menjanjikan kenyaman ternyata kebaikan tidak selalu menjadi baik.

 

 

Gambar diambil dari sini.

Kita.

_DSC1254Yang bisa dilakukan dalam kebisuan ialah tetap merahasiakan. Bisa jadi caraNya membawamu pada sebuah titik waktu yang menjawab. Setelah seribu senja tak pernah selangkah pun berhenti namun masih tetap ada di tempat yang sama. Saat itulah menjaga.

Sekat yang jelas diantara celah yang bukan lagi tak mungkin namun sang pungawa doa sudah tahu hilir mana ia bermula dan yang tidak ia ketahui sama sekali ialah dimanakah tempat muara berada. Apakah kita pernah menjadi pungawa doa. Pada saat yang sama ada yang payah dan ada yang menyerah.

Gambar dari sini

Dibalik Tanya Tentang Senja

Bw7HpAFCAAAx6TjSeperti pejaman mata, saat waktu berjalan meninggalkan segala senyum dan tangis. Berapa lama perangkap bisa mengunci romansa cerita tentang rindu dan cinta dari tatap mata itu. Senja sampai saat ini punya keindahannya tersendiri, Ada seribu senja yang telah menemaninya. Tak ada yang berubah. Perempuan yang selalu jatuh cinta dengan senja.

“Apa kamu masih mengingatku”, Katanya.

“Jelas, tak ada yang hilang sedikitpun tentangmu”, jawab lelaki yang duduk di sampingnya.

“Senja itu yang paling sering menemaniku, duduk sambil minum teh dan saling memandang” kata perempuan itu.

“Khayalanmu terlalu tinggi, senja tak menemanimu saja, setiap sore senja selalu menemani setiap orang” lelaki itu menjawab sambil tersimpul senyum.

“Tapi ini beda, kamu tak akan pernah mengerti. Senja kita tak pernah sama”, kata perempuan itu.

“Bagaimana bisa?” jawab lelaki itu.

“Iya, senja semua orang tak akan pernah sama kecuali …”, kata perempuan itu terputus.

“Kecuali apa?” lelaki itu balas bertanya.

“Siapa yang kamu ingat saat menatap senja?”, perempuan itu bertanya.

“Kamu”, jawab lelaki itu.

“Berarti senja kita sama”, kata Perempuan itu.

Gambar dari sini

Lembayung

file_1470538902.jpg

Semilir angin bertiup  di pelataran

satu kenangan jatuh dari langit

tak bertemu sewindu menjadi kelu

berabad, ratusan ribu jarak waktu

bagaimana, jika tak ada yang bertemu

terpupuk hingga tua namun tak akan layu untuk tetap menunggu

 

Sumber gambar

Kelabu

langit kelabu berteman dengan hujan

banyak mata saling menatap, bicara

kecewa yang dangkal namun dalam, terjebak ruang. 

Sukabumi, 2 Februari 2017

Manusia hanya punya rencana, belum tentu setiap keputusan itu benar, didasari akal tanpa melibatkan perasaan itulah kebutaan, karena hakikatnya fitrah itu ada dari nurani bukan hanya ada pada pikiran.

BERPAUT

le_sigh__by_r0ldy-d3c45wn

Dear, Langit

Mengatasi diri sendiri tidaklah lebih mudah daripada menghadapi orang lain. Kita menyembunyikan segala tanya dan kebingungan, menerka-nerka jawaban dari segala kemungkinan dan itu manusiawi.

Yang kutahu setelah pernah mengalami hal yang serupa sepertimu, banyak hal yang masih akan terjadi bukan. Bagaimana ceritanya Sukab itu akan kamu temui, itulah yang kita tunggu. Kini mungkin kalian sedang saling mengingat, atau sebernanya kalian pernah bertemu tanpa mengenal, atau kalian sudah mengenal tanpa menyapa, segala kemungkinan itu menuju kepastiannya, suatu saat nanti Sukab itu akan ada dalam cerita-ceritamu. Ikuti saja seperti air mengalir, lepas dari tebing tinggi dan terjun bebas, tiada ketakutan, tiada yang disembunyikan, walau terlihat hampa namun jernih dan menyejukan. Seharusnya kita banyak belajar dari alam, dan bila malam mulai kembali sunyi maka lihatlah atap bumi yang senantiasa kokoh berdiri tanpa tiang, benar-benar tiada daya dan upaya selain dariNya, coba temukan terang dalam kelam yang senantiasa berdzikir dalam keanggunannya, kita akan menerangi diri dengan cahaya, walau dalam mendung, walau dalam gelap, walau dalam tiada.

Dengan segala hal yang telah dilalui dan dengan ketetapan hati,  Sukab pasti akan datang.

Gambar dari sini.

Berarah

https://i1.wp.com/blograhman.com/wp-content/uploads/2016/09/gambar-kucing-kucing-lucu-minta-diberi-kekasih-pujaan-hati.jpg

Langit, bibirku tersimpul ketika membaca suratmu, pada akhirnya selalu ada yang kunantikan. Kala kamu bercerita kubisa melihat yang singgah dan berlalulalang di hatimu. Dari apa yang terjadi aku terkesan dan itu selalu. Tentang iman yang terbaca tanpa harus tersurat namun semuanya jelas tersirat. Menunggu dengan percaya pada takdir memang akan terbaca indah. Akhir yang didapatkan memang bisa jadi bukan yang diinginkan, tapi keyakinan tentangNya yang pasti akan memberikan takdir terbaikNya yang paling dibutuhkan. Semoga jawaban itu takkan lama lagi.

Sedangkan aku akhir-akhir ini sedang dibersamai do’a, Do’a pejagaan yang takhabis-habisnya diucapkan, yang tak habis-habisnya dipanjatkan, takhabis-habisnya dibisikan hati dalam diam. Nama Permata hati nan shalihah yang ada dalam do’a itu, kadang gundah datang mengusik, terlalu cemas saat aku takbersamanya. Rasa dijauhkan itu ialah yang paling taknyaman, membayangkan kehilangan dan kekososongan, segala hal yang diimani tentang segala sesuatu yang takpernah kita miliki sesungguhnya, penyadaran diri akan semua ini hanya titipanNya.

Hidup takhanya berkutat dengan satu masalah, hanya saja semua orang punya perbedaan dalam menyikapinya, takhanya membicarakan cinta, takhanya membicarakan diri, kadang kita akan berpikir untuk membicarakan sebagian yang lain yang dianggap meresahkan, di akhir zaman ini nampak seperti sejarah yang terulang, serupa tapi taksama, angapan paham komunis bertaqiyah dibalik demokrasi, kita jadi taktahu mana golongan kiri dan kanan, ini keresahanku yang masih belum beranjak, malah semakin buram dengan kebijakan-kebijakan yang takmasuk akal. Memang yang sebaik-baiknya ialah beriman, agar taktakut menghadapi dan menjalani. Dan pada akhirnyapun takada lagi yang bisa disembunyikan, karena Dia tahu apa-apa saja yang tersembunyi dari apa yang mereka ucapkan, dan ini sudah jelas.

Kutahu waktu bisa menjadi refleksi hati, segala hal yang ada ialah bawaan dari kelampauan, dengan segala kepernahan, takada yang  tertinggal sedikitpun, pengintai yang akan mudah sekali terlihat, ia berupa segala yang menjadi sejarah. Bisa jadi tentang tafakur, tadabur ataupun perubahan diri. Bukankah kita butuh cermin agar takada yang salah lagi, dan waktu ialah tempat dimana cermin itu berada. Waktu ialah salah satu perantaraNya, yang akan memberi tahu hasil dari apa yang kita lakukan kini. Lakukan yang bermanfaat dan taklelah mengupayakan kebaikan, hanya itu, bukan untuk dibenarkan atau mencari pembenaran namun untuk tetap menjadi benar dijalan yang lurus.

Sumber Gambar :

http://blograhman.com/gambar-kucing-lagi-galau-lucu-banget/616/

Kehendak

Kita takkan tahu artinya bersama jika takpernah sendiri, rasanya bahagia yang sedikit akan bermakna jikalau terlalu banyak kesepian.

Pengharapan membuat kita akan berupaya mencapainya, pada akhirnya lupa ada yang lebih kuasa tentang segala harap dengan pengabulannya. Jangan terlalu keras pada hati bisa jadi luka yang begitu pedih dan dalam bukan hanya karena pengharapan.

Suasana

14171_202087116641906_512777261_n

Yang terindah dari setiap kehidupan adalah hikmah, iya dia akan mengajarkanmu membaca sampai kita tahu sesuatu yang lebih dalam, walau itu berawal dari kepayahan.

Segala hal akan terlewati dengan semiotiknya, dan itu ada pada waktu. Percayalah dengan membaca tanda kita akan tahu angin bukan sekedar udara yang bergerak cepat, namun ia seperti hembusan lembut yang membelai kenangan sampai pada apa yang kita ingat saat memejamkan mata.

Menjangkau keterdalaman dari sebuah perasaan, tentang belajar bagaimana caranya membaca diri sendiri ketika memahami, bisa jadi takusah bertanya pada sikap yang mengahadapi, karena apapun sudah dimengerti walau takada yang bicara.

 

Bertaut Takdir

Tamu Ruang Tunggu

Dear Embun,

Purnama lalu ada berita baik tentang seseorang yang akan bertamu ke ruang tungguku. Betapa riangnya aku ketika itu. Kamu juga tahu kan? Hanya aku, waktu, dan rindu yang benar-benar ada di ruang tunggu ini. Kami bertiga sudah mempersiapkan jamuan sederhana untuk menyambutnya. Yang paling bersemangat adalah rindu. Ia sudah menyiapkan pakaian terindah, serbuk kopi arabika, dan berlembar kenangan yang akan ia ceritakan. “Biar sepi takdatang lagi ke sini,” katanya ketika memilah satu demi satu kisah dari koper kenangan yang sejak dulu tersimpan dalam gudang. Nampaknya rindu jauh lebih girang dariku.

Yang takbegitu terpengaruh adalah waktu. Sudah jelas-jelas kali ini berita tetang kedatangan tamu itu amat akurat. Ia tetap bergeming. “Paling sama dengan kejadian-kejadian lalu. Sudah disiapkan berbagai hidangan, sang tamu takpernah mengetuk, apalagi masuk,” katanya. Aku agak kesal juga dengan ketakacuhannya. Mungkin itu salahku juga, memberinya terlalu banyak fasilitas di ruang tunggu ini. Berbagai komik, video games, dan terakhir lemari es sudah aku belikan untuknya. Taksangka ternyata benda-benda itu membuat ia abai dengan perubahan yang terjadi di sini. Penantian taklagi membosankan buatnya. Sepi sudah takbisa mengganggunya.

Lalu aku? Nampaknya waktu lebih banyak memengaruhiku. Bukankah ia memang yang paling tepat untuk dijadikan sahabat? Kelebatan angan-angan taklagi terlalu sering datang ke sini. Yang aku lakukan hanya merapikan beberapa barang, menyirami harapan, dan mengusir keraguan. Walaupun sebenarnya takberani percaya pada apa yang akan terjadi, aku berusaha untuk membangunkan mimpi dan menghadirkan sedikit keyakinan. Sedikiiiit, amat sedikit. Sejujurnya aku takpunya keberanian.

Kemudian hari istimewa itu datang. Aku, waktu, dan rindu sama-sama menunggu di balik jendela yang ada tetap di samping pintu. Sosok itu benar-benar ada, mematung di depan puntu. Disembunyikannya sebelah tangan di belakang. “Dia membawa setangkai bunga mawar untukmu,” kata rindu. “Hush! Jangan asal menerka-nerka. Siapa tahu dia membawa sebilah pisau atau senapan berpeluru,” ujar waktu. Dalam perdebatan itu aku memilih bergerak menyalakan tape dan memutar sebuah lagu tentang jatuh cinta sebagai tanda bahagia menyambutnya.

Namun, setelah berjam-jam ditunggu, sosok itu takpernah mengetuk apalagi masuk. Ia berlalu bersama api cemburu akibat lagu cinta itu. “Kamu sih, belum apa-apa sudah menyetel lagu cinta. Bisa saja dia mengira di ruang tunggu sudah ada yang menemanimu,” ujar waktu sambil bersungut-sungut. Seperti kebal, ia takterlalu kecewa dengan ketertundaan. Diambilnya semangkuk eskrim yang selalu ia siapkan setiap ada berita kedatangan. Ia seperti sudah mempersiapkan diri menghadapi kegagalan. Kekecewaan sudah seperti rutinitas baginya. Ia berkali-kali menyadarkan diri bahwa taksetiap orang siap menerima kejenuhan ruang tunggu. Taksetiap orang bisa menerima betapa elastisnya waktu.

Kau ingin tahu kabar rindu? Ia berlari tergugu ke gudang sambil memeluk kenangan. Kisah-kisah yang sudah dipilihkan ternyata harus kembali disimpan. Ia sudah berkali-kali berusaha sabar menghadapi waktu yang mengajarinya membunuh angan-angan. Ia sudah sangat keras bersabar untuk takmenyimpan harapan. Kali ini ia harus kembali mengatasi kekecewaan. Lagi-lagi kopi arabika yang sudah disiapkan mesti kami habiskan bertiga.

Demikianlah yang terjadi setiap seorang tamu mengurungkan niatnya. Aku harus kembali mengatasi keapatisan waktu dan kecengengan rindu. Walaupun agak repot, ditemani mereka berdua lebih mending ketimbang diselinapi sepi. Soal lagu tentang jatuh cinta, itu adalah keputusanku. Rasa ini harus aku jaga agar takmati, walaupun pemiliknya belum aku tahu pasti. Perkara orang lain cemburu, itu bukan urusanku. Aku takpernah berniat memaksa siapapun mengetuk pintu ruang tungguku, apalagi untuk masuk. Aku takakan pernah meminta pencemburu itu kembali untuk menyimak penjelasanku. Aku takakan membiarkan orang lain membuatku patah hati sebelum jatuh cinta. Jika takingin masuk, pergi saja. Aku takmembutuhkannya.

Ada seseorang yang sedang aku tunggu. Aku sudah jatuh cinta kepadanya walaupun kami belum pernah bertemu. Aku masih menunggunya meski takseorangpun yang mengabarkan berita kedatangannya. Dia akan mengetuk pintu ruang tunggu dan kupersilakan masuk. Pada suatu waktu, entah kapan.[]

 

kucing-hujan

Dear , Langit

Sebuah penahanan diri apa itu sebuah pengorbanan takterbatas, indah walau merawankan . takhanya itu membendung segala prasangka dengan mengupayakan kebaikan dari falsafah sendiri. bila begitu ternyata benar cinta itu buta.

Sebuah pertemuan dalam takdir, sudah ada yang menentukan lebih dulu , segala hal yang bisa saja tertunda atau bahkan terputus , tapi tetap saja rancu bila dipaksakan bukankah takada yang bisa menghentikan waktu seperti daun yang jatuh , dan akan tetap jatuh karena dalam ketetapanNya daun itu harus jatuh.

Apapun itu , dulu ataupun kini pasti semua akan baik-baik saja. percayakan saja padaNya.

BatopieBlog

Ngeblog dengan Secangkir Susu Kopi

ngopi saja

pura-pura blogging sambil ngopi

Anne Adzkia

motherhood stories and life journey

Bakulrujak ngeBlog

Belajar saja.

Febriyan Lukito

sharing, caring and enriching life

Dr. Margono M. Amir

My true stories

wikfa.ushi

Hanya sesuatu yang berhasil ku untai

waiting room

: dari senyap ruang tunggu, tempat aku menemukan-Mu

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Capture The Moment by Tina Latief

because every moments is worth remembering

langitanah

tentang waktu

langit LANGIT

seperti langit; bebas seperti tak berbatas, namun tetap menunduk pada-Nya

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

mylittlecanvas

If you can imagine it, you can realize it

Ika Koentjoro's Blog

Menulis untuk berbagi inspirasi......

Salma Athiyyah

Welcome to my page, reader^^

arheinaoctaviani

A great WordPress.com site

SR For SalmanRafan

cintai takdirmu~